Friday, December 12, 2008
Federal Mt. Everest (1994)


Yang ini sepedaku yang pertama... dan masih kupake sampai sekarang.
Kudapatkan sepeda ini sebagai hadiah sunatan, waktu masih kelas 6 SD. Dan semenjak itu petualanganku di dunia sepeda dimulai. Main XC (yah, untuk anak SMP, main sepeda di jalan setapak bebukitan hutan mahoni pake sepeda rigid pun sudah bisa dihitung sebagai main XC), kebut-kebutan di jalanan saat berangkat dan pulang sekolah, atau mencari bagaimana caranya memperbaiki sepeda sendiri...
Dunia yang simpel dan menyenangkan ini terpaksa kutinggalkan saat kuliah, karena tidak mungkin menyimpan sebuah sepeda di kamar kosku yang tak cukup luas itu... dan ketika kumulai hidup baru di Jakarta, ada keinginan lagi untuk menikmati kembali masa-masa indah itu. Transportasi bebas bahan bakar fosil... dan saat-saat di mana nggak ada yang lain kecuali aku, sepedaku, jalan yang kutempuh. Nggak ada deadline, rapat koordinasi, koreksi gambar...
Dan terangkutlah sepeda ini ke Jakarta. Niat awalnya adalah memperbaiki komponen-komponen yang rusak, sekaligus menuntaskan impian sejak kecil: pasang fork suspensi depan! Nggak disangka, lama-lama parts asli yang tersisa dari sepeda ini tinggal rangka dan freehub belakangnya saja.
Dengan sepeda ini, tak hanya kudapatkan kesehatan dan kesenangan, tapi juga persahabatan.
Awal 2009, Federal ini berevolusi lagi... derailleur depan dan belakang diganti Deore XT M739, barang baru stok lama yang dicomot dari Bandung dan Jakarta. Tentu saja, rantai yang udah item-item itu diganti baru juga. Stem ditukar Syntace F99, stem paling ringan yang ada di rumah... 98 gram, bo'!

| frame: Federal Mt. Everest 1994 | suspension: Suntour XCR 80mm with remote lock and custom steerer | controls and brakes: Shimano Deore XT ST-M739 shifter+brakelever combo, Shimano Deore LX BR-M570 v-brakes, Zoom composite carbon 580mm flatbar, Syntace F99 90mm stem, YST G-Force 32,7mm headset, Kalin 25,4x400mm seatpost, Selle Royal Energy saddle, Wellgo flatpedals, Jagwire shifter+brake cable+housing | drivetrain: Shimano Deore XT FC-M730 175mm crankset (48-38-28T), Shimano Alivio CS-HG50-8 cassette (11-32T), Shimano Deore XT FD-739 front derailleur, Shimano Deore XT RD-M739 rear derailleur with XTR sealed bearing lower pulley, Shimano CN-HG93 chain, Shimano BB-UN25 bottom bracket | wheels and tires: Rigida ZAC2000 559-19mm rims on Shimano Deore XT FH-M739 (front) and Shimano Exage (rear, customized to accept 8-speed cassette), Schwalbe CX Comp 26x2.00 tires |



 
 


Oh, iya. Baru-baru ini aku iseng bongkar-bongkar arsip lama. Ini dia bentuknya sepeda ini sebelum kubawa ke Jakarta...


Posted at 05:05 am by ranggapanji
what people said (25)  

United Patrol SL (2006)


Sepeda ini boleh jadi umurnya jauh lebih muda dari "kakaknya", tapi kisahnya jauh lebih banyak...
Berawal dari keinginan untuk punya sepeda full-suspension (pakai sokbreker belakang), aku dan adikku membeli sebuah frame chromoly bekas (cerita lengkapnya, kapan-kapan...) di sebuah toko sepeda. Lalu kita ingin pasang discbrake depan belakang, jadilah frame besi itu "dirusak", dipasangi dudukan kaliper belakang. Dan proyek itu gagal. Dan ditinggal.
Tergerak rasa sayang karena sudah beli banyak sekali parts (terutama discbrake set-nya: kaliper, hub depan belakang, rotor sepasang... untukku, harganya waktu itu cukup mahal sekali), aku tergerak untuk memberikan kumpulan parts tersebut "rumah" baru. Maka lahirlah sepeda ini...
Seiring perjalanan waktu, parts asli yang tersisa dari proyek awalku dengan adikku yang masih dipakai di sini, ya tinggal kaliper rem-nya saja.
Sepeda ini sudah ke mana-mana. Mungkin karena fleksibilitas linkage rear triangle-nya yang memungkinkan untuk dilipat lebih kompak dari sepeda biasa, menghemat ruang penyimpanan di bagasi. Ke Cilacap, dan yang paling seru, ke Bali...

| frame: United Patrol SL 2005 | suspension: Suntour XCR 120mm fork, KS290 coil rear shock | controls and brakes: Shimano Deore LX SL-M580 shifter, Tektro Eclipse Carbon brakelever, Shimano BR-M475 mechanical disc caliper, Shimano SM-RT62L 203mm rotor (front), Shimano SM-RT62 160mm rotor (rear), Amoeba SCUD composite carbon 620mm risebar, Zoom 100mm stem, FSA cartridge bearing headset, Thomson layback 27,2x350mm seatpost, custom upholstered Selle Royal Wolf saddle, United flatpedals, Jagwire shifter+brake cable+housing | drivetrain: Shimano Deore LX FC-M580 175mm crankset (44-32-22T), Shimano Deore XT CS-M760 cassette (11-34T), Shimano Deore LX FD-M570 front derailleur, Shimano Deore LX RD-M570 rear derailleur, Shimano CS-HG53 chain | wheels and tires: Speed 559-26mm rims on Shimano FH-M495 (front) and Shimano HB-M495 (rear), Schwalbe Black Jack 26x2,10 tires |

Filthy is yes, hehehe... katanya, kalau tidak mau kotor, ya jangan main MTB...
 
 




Posted at 06:14 am by ranggapanji
what people said (2)  

Federal Mt. Everest (1991)


Berubah lagi. Yah. Ya, namanya never ending project, ya nggak akan selesai...
Karena classic bend dropbar terlalu panjang reach-nya buatku, akhirnya kuganti dengan anatomic bend yang lebih modern. Reach yang lebih pendek mengharuskanku untuk ganti stem juga, biar posisi badan nggak berubah. Harusnya sih aku pake stem dengan reach 70-80mm, apa daya, yang kupunya adalah 90mm. Karena udah terlanjur senang sama modelnya, akhirnya demi mempertahankan saddle-to-bar length, sadel kugeser maju sampai hampir mentok.
Ternyata posisi badan yang lebih maju ini malah menguntungkan buat akselerasi. Memang, pada frame roadbike betulan, seat tube angle-nya lebih tegak dibanding MTB. Majunya posisi sadel ini boleh dibilang untuk mengakali rebahnya seat tube angle bawaan Mt. Everest, jadi posisi sadel sekarang lebih mendekati frame roadbike sungguhan.
Dan crank Sora-nya! Sebenernya kalo dilihat dari kelas komponen, berarti downgrade (sebelumnya kan RSX, atau sekarang dikenal sebagai Tiagra). Tapi yang ini outboard bottom bracket bearing, bo'. Biarpun crank arm-nya nggak hollow, tapi cukup signifikan mengurangi bobot. Dan rasio gearing-nya yang lebih compact membuat hampir seluruh cog efektif terpakai (sejauh ini, paling top adalah pake rasio 50-13T...).
Pemasangan crank ini menyimpang dari standarnya. Tube plastik yang biasanya menghubungkan antara cup kiri dan kanan (fungsinya untuk melindungi crank arm spindle dan bearing dari kotoran yang masuk ke frame tubing), terpaksa diganti punya MTB. Yang aslinya terlalu pendek, sehingga crank arm sebelah kiri mentok ke chainstay. Oh iya, cup yang sebelah kiri juga diganjal satu spacer ring.
Biar lebih bling, pulley RD kuganti Token. Warna gold, menyesuaikan tutup pentil dadunya. Hehehe...
Selanjutnya, stem dan sadel ku-polish (manual! Buseeeet, sampe kapalan ini tangan...), biar kelihatan klasik. Dan mirip Thomson. Hehehe.
Dan clipless pedal memang terbukti meningkatkan efisiensi pedalling. PD-M505 ini nggak cuma dipake di sini, tapi kadang pindah-pindah ke sepeda lain...
Cerita panjang lebar soal gimana aku ngedapetin frame ini ada di sini.
Ini proyek agak aneh. Mencoba mengubah frame MTB jadi roadbike. Eh, bukan. Karena geometri MTB lebih slack dari roadbike, jadinya ya larinya ke arah cyclocross/turing... tapi secara tampilan sih memang mirip, hehehe.
Terinspirasi dari messenger bikes, serta diramu sedikit rasa cyclocross pada wheelset-nya (hei, karena aslinya frame ini kan frame MTB...). Bukannya nggak fungsional, lho. Jalanan di Jakarta kan parah... dan ngeri aja pake ban 700x23c buat ngehajar lubang di jalan. Apalagi meskipun bungkuk begini, kadang masih aja roh MTB-nya keluar... sepeda ini enak lho, diajak bunnyhop!

Indeed, it's a cyclocross-inspired urban bastard...

Specs:
| frame: Federal Mt. Everest 1991 | suspension: none (duh...) | controls and brakes: Shimano Sora ST-3400 shifter+brakelever combo, Shimano Deore LX BR-M565 cantilever brakes, MZ anatomic dropbar, polished Zoom 3D 90mm reach, 25,4mm clamp stem, Ritchey Scuzzy Logic 1" threadless headset, Velo saddle, polished 25,4x300mm seatpost, Shimano PD-M505 clipless pedals, Shimano SLR brake cable+housing, Cinelli natural cork handlebar tape | drivetrain: Shimano Sora FC-3400 170mm crankset (50/34T) with outboard bottom bracket, Shimano Ultegra CS-HG70 12-25T cassette, Shimano Deore LX FD-M550 front derailleur, Shimano 105 RD-5600SS rear derailleur with Token cartridge bearing pulley, Shimano CN-HG93 chain | wheels and tires: Rigida DP2000 622-19mm rims on Shimano Deore FH-M530 (front) and Shimano Tiagra HB-4400 (rear), Deli Tire 700x38c cyclocross/hybrid tires |

Behold... more pics!


 
 
 

More (singlespeed) pics...





Singlespeed specs:
| controls and brakes: generic long reach single pivot caliper brakes, Kalloy dropbar, Amoeba Borla 50mm stem, generic 30,8mm threaded headset, Kalloy 25,4x300mm seatpost, custom upholstered Selle Royal Wolf Gel saddle, generic flatpedals, Shimano SLR brake cable+housing, Cinelli natural cork handlebar tape | drivetrain: Shimano RSX FC-A410 170mm crankset (46T), Shimano 17T rear sprocket, KMC Z-Chain, Shimano BB-UN25 bottom bracket, custom singlespeed cassette adaptor |


Terima kasih buat semua orang yang udah berpartisipasi dalam proyek aneh ini: Om Hendry Azwar, Om Joseff (untuk ide gila dan pinjeman wheelset-nya), Om Wawan Netsbike Bandung (dropbar-nya), Om Tagara Yuta (crankset RSX-nya), Om Fachril (buat hub+freehub Deore "prototype"-nya... tapi terus freehub-nya dibarter sama freehub Tiagra), Om Alek "bogalalakon" (nah, ini dia yang ngebarter freehub Deore-ku sama Tiagra...), Om Julfasus untuk sadel putihnya (edit: dan stem-nya yang kembali), Om Adil untuk cassette Ultegra-nya, Tante Mellisa "leschena" untuk clipless pedal-nya... sama nggak lupa, istriku yang nggak keberatan ternak di rumah nambah satu, hehehe...

Ain't this sweet?


dan foto-foto yang sudah lalu...








Posted at 07:29 am by ranggapanji
what people said (25)  

Saturday, December 13, 2008
United Belmont (...)


Ini sepeda istriku. Bukan, bukan sepeda yang kubeliin buat istriku, tapi memang punya istriku...
Asal-usulnya nggak begitu jelas. Makanya tahun produksinya nggak kutulis... Yang jelas, waktu aku pertama kali datang ke Jakarta, sepeda ini udah ada di rumah mertuaku. Dulunya dipake pembantu ke mana-mana. Lebih tragis lagi, sempat sepeda ini dipasangi palang tengah (top tube jadi-jadian?) dari kayu, terus dipake tukang yang ngebangun rumah mertuaku untuk wara-wiri ngangkut zak semen!
Dan setelah rumahnya jadi, sepeda ini ditelantarkan begitu saja di gudang...
Setelah membawa Mt. Everest-ku yang pertama ke Jakarta dan pasang fork suspensi, ada keinginan juga ngajak (calon) istriku (kan waktu itu belum nikah, hehehe) bersepeda berdua. Kan nggak lucu kalo sepedaan berdua tapi sepedanya cuma satu. Galih dan Ratna banget nggak, sih (yah, ketauan deh angkatannya)... Akhirnya, sepeda yang teronggok di gudang ini mulai kurestorasi.
Awalnya cuma memperbaiki parts yang rusak. Ganti rantai, hub, spokes, kabel rem dan shifter (dulunya sepeda ini multispeed), ubah drivetrain ke 3x7-speed. Eh, kok terus ada keinginan ngecat. Ya udah, warna ungu aslinya pun digusur kombinasi kuning-silver (yah, karena cuma cat warna itu yang tersisa di rumah).

Itu foto waktu habis kutes jalan ke kantor. Nggak mungkin lah, istriku pake setting seatpost setinggi itu.

Lantas aku terjangkit virus singlespeed. Ketularan dari Sang Dewa. Boleh dibilang, ini singlespeed pertama di keluarga... Dan istriku nggak keberatan sepedanya dijadiin singlespeed. Lebih simpel, sih. Dan lebih enteng...


Lanjut lagi, wheelset sepeda ini adalah wheelset pertama yang kurakit sendiri. Iya. Sendiri. Tanpa truing stand, cuma mengandalkan frame sepedanya. Udah gitu, langsung pake pola 3-trailing 3-leading juga, yang nggak kalah rumitnya. Masih kurang rumit? Rims yang kupake lubangnya 36, sementara hub Formula yang kupake berlubang 48!
Butuh seminggu untuk ngerakit wheelset begini. Banyak trial and error-nya... tapi pelajaran yang didapat sangat berharga.
Hub belakangnya, ada cerita tersendiri lagi. Awalnya karena aku pengin ngerakit 3-trailing 3-leading begitu, kalo misalnya aku pake hub biasa yang low-flange pastinya efek susunan jari-jari yang kayak kipas itu nggak akan kelihatan jelas. Ya udah, aku nyari hub high flange. Yang kutemukan ya hub Formula buat BMX itu, tapi lubangnya 48. Pikirku, ngakalinnya mudah (dan ternyata nggak semudah itu...). Tapi yang menarik, hub ini sistemnya bukan freewheel (sproket belakangnya model ulir), tapi freehub (kayak hub Shimano, sproket belakangnya masuk ke freehub body, terus dikunci pake lockring)! Menarik, nih. Aku bisa dengan mudahnya ganti-ganti rasio gearing, asal mau ngebongkar satu cassette untuk dipretelin sproketnya...
Dan setelah bolak-balik ganti, akhirnya rasio yang pas buat istriku adalah 32/15T.
Yang repot, karena hub belakang ini aslinya untuk BMX yang OLD-nya 110mm, jadinya di tiap sisi locknut hub ini kuganjal ring supaya pas di spacing dropout frame ini yang 135mm. Lebih lanjut, karena sproket belakang posisinya jadi terlalu ke dalam, maka chainring-nya harus digeser juga ke dalam... itulah kenapa di setiap baut chainring di crank arm ada ganjalan tiga ring tebal.
Oh iya. Biarpun "cuma" single wall, tapi rim Araya yang kupake di sini masih aseli bikinan Jepang, lho...


Dan terakhir, setelah aku dapat v-brake Shimano DX warna merah, kayaknya warna kuning-silver nggak lagi serasi dengan sepeda ini. Langsung saja frame-nya kucat ulang warna pearl white. Dipadu sadel yang dibungkus ulang dengan warna putih dan fork RST Omni-nya yang warna aslinya udah merah, akhirnya sepeda ini kita juluki Susterngepot...

| frame: United Belmont, unknown year | suspension: RST Omni, 1" steerer tube | controls and brakes: Shimano Deore LX BR-M570 brake levers, Shimano DX BR-M600 v-brakes, alloy risebar, Kalloy quill stem, generic 30,2mm headset, alloy 25,4x300mm seatpost, custom upholstered saddle, Exustar flatpedals, Jagwire brake cable+housing (Shimano SLR front housing) | drivetrain: Shimano Acera FC-M340 170mm crankset (32T), Shimano 15T cog, generic singlespeed chain, Shimano BB-UN25 bottom bracket | wheels and tires: Araya VP-20 26x1.50 on Formula BMX hubs, IRC Metro 26x1.50 tires |




Posted at 07:47 am by ranggapanji
what people said (4)  

Optimist Adventure (...)


Frame ini cukup lama "bergentayangan" di kalangan anggota B2W Indonesia Jakarta, sebelum akhirnya terdampar di Mampang.
Di antara nama-nama yang pernah make frame ini, ada Om Virgo, Om Julfasus (bolak-balik), Om Hendry, dan beberapa nama yang nggak tercatat (dan nggak mau dicatat, hehehe). Istilah kata, frame "j*bl*y", hehehe.
Setelah hinggap di jendela, eh, rumahku, frame ini sempat lama nggak kesentuh. Sempat jadi model foto untuk tips bikin tensioner singlespeed murmer, terus habis itu dikeletek stikernya, terus dianggurin lagi di balkon kamarku. Melas, deh.
Terus kepikiran bikin singlespeed beneran, karena sepeda singlespeed yang ini gearing-nya terlalu ringan untukku. Tapi harus murmer. Maka dimulailah proyek "berburu santai!" di Sepedaku.com yang sukses membawa banyak pengikut, hehehe... Dari berburu santai ini, didapat hub+freehub Deore centerlock, crank Deore 2008, rotor Deore XT 6" centerlock (ngegantiin Deore SM-RT52 centerlock-nya, yang didapat di Sepedaku.com juga), sama kaliper M465 depan belakang. Semua diperoleh dengan harga miring, bahkan ada yang sampe tiarap, hehehe. Termasuk fork depan itu, seken dan murmer. Makanya berani kucat putih, soalnya aslinya udah amburadul. Dan silakan cari MZ3 putih dengan decal kayak gini di mana-mana... bahkan di website-nya Marzocchi pun nggak ada. Yak, decal-nya memang bikinan sendiri...
Bisa dibilang, kalo nggak ada forum jual beli di Sepedaku.com, sepeda ini nggak akan jadi kayak gini. Hehehe...
Terus berbekal tips asik dari Om antonasik, jadilah sepeda ini tanpa tensioner. Bermodal rantai bekas yang udah mulur, dengan rasio 32/14T, ketegangannya pas.
Waktu beli shower kloset buat ibu mertuaku, aku ngelihat ada warna hijau bagus di katalog cat. Beli, deh. Setelah ngebenerin kloset, langsung ngecat. Sendiri. Cukup seharian aja, jadilah Optimist rasa Titus, hehehe. Warnanya doang.
Eh, ternyata ngecat warna candytone itu susah, ya. Banyak belangnya! Dan ternyata ke-j*bl*y-an frame ini nggak berhenti karena sudah punya tempat di rumahku. Adaaaa aja yang bikin frame, eh, sepeda ini jadi jarang di rumah, hihihi... entah dipinjem karena ada teman yang butuh frame, dipinjem untuk dipake harian karena sepeda hariannya lagi diservis, atau semata karena pengin nyobain sensasi singlespeed.
Ya udah, sekalian aja, kubikin peraturan... boleh minjem, asal nyetor stiker. Bukan apa-apa, stikernya untuk nutupin belang catnya, hehehe...
Selain upgrade fork, rotor, sama bashguard transparan, perubahan lainnya juga di spacer singlespeed yang lebih "serius". Coba perhatikan chainline-nya, manis banget, kan? Lurus!

Banyak banget sebutan untuk frame ini. Mulai dari frame j*bl*y, frame tragedi asmara... tapi buatku, mengingat sejarahnya dan bagaimana setup sepeda ini sekarang, nggak ada julukan yang lebih pas dari "The Urban Legend"...

thanks to:
- Om hendry
- Om galihleo dan nyonya
- Om a.karianto
- Om Julfasus
- Om Novarossi
- Om Pucbike
- Om ottid
- Om h2arr
- Om unique
- Om adit_dagoe
- Om goliath
- Om ones

| frame: Optimist Adventure | suspension: Marzocchi MZ3, 100mm travel, repainted and redesigned decals | controls and brakes: Logan brake levers, Shimano BR-M465 mechanical discbrakes, Shimano Deore XT SM-RT78 160mm rotors, FSA XC280 risebar, Zoom 70mm stem, Chris King knock-off headset, Kalloy 27.2x400mm seatpost, custom upholstered saddle, generic flatpedals, Jagwire brake cable+housing | drivetrain: Shimano Deore FC-M532 175mm crankset (32T) with custom compression bolt, Shimano 14T cog, Taya 8-speed chain, custom singlespeed cog adaptor, custom bashguard | wheels and tires: Alexrims EN-24 v-brake on Deore HB-M535 (front) and FH-M535(rear) hubs, Schwalbe Smart Sam 26x2.10 tires |

 
 
 


Posted at 07:48 pm by ranggapanji
what people said (5)  

Blogdrive